BNPB dapat award PBB, Indonesia!

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana mendapatkan penghargaan atas PetaBencana.id pada ajang United Nations Public Sector Award atau UNPSA 2019. PetaBencana.id ini menjadi pemenang untuk kategori_Ensuring Integrated Approaches in Public Sector Institutions_.

Penghargaan ini digagas Badan PBB untuk Masalah Ekonomi dan Sosial atau United Nations Department of Economic and Social Affairs. Program yang digiatkan oleh badan ini yaitu menciptakan 17 tujuan sebagai Sustainable Development Goals (SDGs). Tujuan yang ditargetkan hingga 2030 ini salah satu membahas mengenai Climate Action. Climate action ini sangat terkait dengan isu perubahan iklim yang dirasakan oleh seluruh dunia. Kategori yang dimenangkan oleh PetaBencana.id ini merupakan bagian dari topik SDGs pada tujuan Climate Action tersebut.

Sementara itu, produk PetaBencana.id merupakan salah satu dari beberapa produk kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah yang dikirimkan melalui Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Produk-produk inovasi yang dikirimkan sejak November 2018 lalu baru saja diumumkan pada bulan ini.

PetaBencana.id merupakan platform yang memuat peta kebencanaan, khususnya banjir, di wilayah Jabodetabek, Kota Bandung dan Kota Surabaya. Plaform yang sifatnya gratis dan open source ini dikembangkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Massachusetts Institute of Technology (MIT) Urban Risk Lab.

Platform inovatif ini memungkinkan para pengguna untuk aktif dalam melaporkan keadaan banjir di wilayahnya secara realtime. Namun laporan tersebut akan diverifikasi dan disebarkan secara langsung melalui peta publik. Pengguna media sosial dan aplikasi pesan instan kini dapat melaporkan situasi banjir di sekitar dengan mudah. Pengguna Twitter cukum mengirim cuitan ke @petabencana dengan #banjir dan BencanaBot akan otomatis memandu pengguna untuk mengisi laporan. Pengguna Telegram juga dengan mudah untuk melaporkan banjir dengan mengirim pesan “/banjir” ke @BencanaBot, yang akan membantu pengguna membuat laporan. Pengguna dapat menambahkan deskripsi, foto, tinggi banjir dan detail lokasi dalam laporan.

PetaBencana.id tidak hanya mengumpulkan laporan hasil crowdsourcing dari media digital tetapi juga informasi terkait infrastruktur bencana. Peta dapat juga menampilkan tinggi muka air di pintu air dan lokasi pompa terdekat sebagai layer, sebagai gambaran lebih menyeluruh tentang situasi banjir.

Selain menggunakan kode pada media sosial Twitter, PetaBencana.id merupakan satu-satunya platform yang mengintegrasikan kanal media sosial popular lainnya, seperti Telegram, Qlue, PasangMata detik.com, dan Z-alert.

Media sosial sudah berkembang cukup canggih dewasa ini. Ini memungkinkan komunikasi terintegrasi dengan media sosial dan teknologi digital yang ada sekarang ini. Oleh karen itu, masyarakat dapat berkontribusi dalam membantu memberikan informasi ancaman maupun bencana banjir di wilayahnya.

Dengan berbagi informasi bencana, warga dapat menolong satu sama lain untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi terkini. Warga dapat juga membantu instansi berwenang dalam penangana bencana, termasuk BNPB, BPBD dan stakeholder untuk penangan bencana yang efektif dan efisien.

Selain kategori yang dimenangkan PetaBencana.id, kategori yang dilombakan yaitu Offering inclusive and equitable services for not leave anyone behind, Developing effective and responsible public institutions, Promoting digital transformation in public sector institutions, dan Promoting gender-sensitive public services to achieve the SDGs.

Sementara itu, Kepala BNPB Doni Monardo sangat mengapresiasi seluruh jajaran BNPB yang mendapat mendapat penghargaan dari PBB tersebut. “Dalam prosesnya itu tidak mudah dan banyak sekali saingan dan ketat kompetisinya, baik di tingkat nasional apalagi di regional karena setiap negara banyak yang mengirimkan inovasi yang sudah dilakukan sesuai dengan sub tema yang ada. Ternyata yang mendapat penghargaan PetaBencana.id dan BNPB,” kata Doni Monardo.

Doni juga menambahkan, “Makanya kita bangga. Di tengah kondisi situasi politik saat ini, BNPB dapat memberikan kontribusi dengan membawa nama baik Indonesia dengan penghargaan dari PBB. Tentu ini membanggakan kita semua. Indonesia telah banyak diakui capaian yang dihasilkan. Tentu kita perlu terus mengembangkan ke depan.

Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB

Sekolah Aman: Cara Asyik Mengenalkan Kesiapsiagaan Bencana pada Anak

Indonesia merupakan negeri di tanah yang rawan bencana. Bencana yang terjadi pada akhir 2018 dan awal 2019 membuat pentingnya peningkatan kesiapsiagaan bencana di kalangan masyarakat Indonesia semakin penting. Ada baiknya juga jika kesiapsiagaan bencana dapat ditanamkan dari kecil mengingat bencana dapat datang kapan saja dan siapapun bisa jadi korban. Mengenali tanda-tanda bencana dan apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi dari kecil dapat membuat anak Indonesia mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk selamat ketika bencana terjadi.

Bagaimana caranya mengajari anak-anak untuk dapat memahami konsep kesiapsiagaan bencana? Organisasi anak PLAN Indonesia dan didanai oleh Badan Kerjasama Pembangunan Internasional Korea (KOICA) dan Daewoo Securities membuat “Game Safe School” yaitu aplikasi pendidikan bagi anak-anak untuk mengerti bagaimana bencana alam terjadi, apa dampak bagi kegiatan belajar mengajar dan bagaimana kampanye “Sekolah Aman” dapat mengurangi risiko atau melindungi sekolah dari bencana alam. Game ini berfokus pada situasi sekolah mengingat sekolah merupakan tempat dimana mayoritas anak-anak berkumpul pada setting kehidupan sehari-hari.

Game Safe School adalah alat belajar yang interaktif dan menyenangkan karena menggunakan permainan dan animasi yang menarik untuk menyampaikan gagasan dan prinsip dengan cara yang mudah dimengerti bahkan oleh anak kecil sekalipun. Pada game ini terdapat empat jenis bencana yang dikenalkan yaitu erupsi gunung berapi, banjir, gempa dan tornado. Keempat jenis bencana ini merupakan bencana yang cukup familiar terjadi di Indonesia

Fitur-fitur pada game ini adalah:
– Grafis dan animasi yang menawan
– Belajar sambil bermain
– Pengetahuan interaktif dengan puzzle, kuis, dan simulasi
– 4 permainan mini yang menarik dengan tiga level kesulitan
– Dilengkapi materi edukasi yang meningkatkan kesadaran anak akan bencana alam
– Mendukung 5 bahasa :
– Bahasa Indonesia
– Bahasa Inggris
– Bahasa Mandarin
– Bahasa Kamboja
– Bahasa Filipina

Tertarik untuk mencoba game ini? Game ini bisa dimainkan dalam platform android dan bisa diunduh dalam aplikasi google play  di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.lumiplay.safeschool&hl=in (ANA)

 

TAMPILKAN EKONOMI KREATIF DAN EDUKASI LINGKUNGAN, TAMAN RAMADHAN KALILUNYU 2 RESMI DIBUKA

Penandatanganan Komitmen Bersama

Guna meningkatkan ekonomi warga dan edukasi tentang lingkungan sungai, Komunitas Peduli Kali lunyu kelurahan kabupaten, klaten kembali mengadakan Taman Ramadhan Kalilunyu 2 /TRKL selama bulan puasa ini. Kegiatan taman Ramadhan Kalilunu ini diisi dengan bazar berbagai kuliner menarik untuk menu berbuka puasa. Selain bazar kuliner, tidak ketinggallan berbagai kegiatan edukasi, seminar, tentang lingkungan sungai juga digelar untuk menyemarakkan acara yang digagas oleh komunitas dan warga ini.

Menurut Doni Wahyono, Ketua Komunitas Peduli Kalilunyu, pada pembukaan kemarin, bazar kuliner diikuti oleh 30 stand atau lapak pedagang dari warga sekitar kalilunyu. Pihaknya berharap kegiatan ini mampu meningkatan ekonomi warga dan komunitas yang selama ini terus aktif melakukan gerakan bersih sungai dan peduli sungai. Selain ekonomi kreatif kegiatan ini juga untuk mengedukasi serta mengajak warga dan berbagai pihak untuk terus bergotong royong menjaga kalilunyu agar tetap bersih dan memberi manfaat kepada warga sekitar.

Lebih jauh Doni menjelaskan dalam taman ramadhan kali ini juga mengajak kepada takmir masjid di sekitar kalilunyu, ibu ibu dan srikandi di sekitar kalilunyu, lurah, camat, dinas lingkungan hidup, sekda klaten sekaligus kepala sekolah sungai klaten, pelajar,akademisi/ pakar untuk membacakan dan menandatangani komitmen bersama untuk melakukan gerakan ramadhan cantik kurangi/ puasa plastik melalui aksi aksi nyata di lingkungan masing masing. Selama ini, sungai masih dijadikan tempat pembuangan sampah terpanjang oleh berbagai pihak.

Sementara itu, Prof Suratman, Pakar lingkungan dari Klinik Lingkungan Hidup dan Mitigasi Bencana Universitas Gadjah Mada dalam tausyiahnya mengajak kepada warga, komunitas, pemerintah, relawan, dunia usaha, Tni, Polri agar menjadikan semangat Ramadhan dapat menjadikan spirit untuk bergotong royong menjaga alam, lingkungan dan sungai. Ancaman kerusakan lingkungan, sungai yang mengakibatkan bencana sudah semakin nyata dan banyak. Pihaknya mengajak agar kita semua untuk mecintai alam, tidak merusak alam dan menjaga alam agar membawa keberkahan kepada warga.

Penyerahan Nasi Kuning sebagai Tanda Peresmian

Jaka Sawaldi, Sekda kabupaten Klaten yang sekaligus Kepala Sekolah Sungai Klaten, dalam sambutan pembukaan Taman Ramadhan Kalilunyu 2 senin sore mewakili Ibu Bupati Klaten mendukung penuh kegiatan taman ramadhan kalilunyu ini. Pihaknya berharap kegiatan inovatif ini dapat meningkatkan ekonomi warga sekitar dan komunitas. Selain itu juga terus menyadarkan kepada warga sekitar Kali Lunyu akan pentingnya sungai yang bersih. Pemerintah juga terus mendorong agar semua pihak, instansi pemerintah, Tni, Polri, Dunia Usaha untuk bekerjasama menjaga lingkungan sungai. Pemkab klaten juga telah mebuat perda tentang pemanfaatan dan pengelolaan sungai untuk mendukung gerakan masyarakat ini.

Pembukaan secara resmi TRKL ini ditandai dengan memotong tumpeng oleh Sekda Kabupaten Klaten dibagikan kepada Prof suratman disaksikan komunitas, pewakilan dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Dinas Pusdataru dan BPBD Prov Jateng, Dinas Lingkungan hidup dan

BPBD Klaten, perangkat kelurahan, Camat, serta muspika dan warga yang hadir. Acara pembukaan juga lebih menarik karena disuguhkan tari gambyong dari pelajar peduli sungai smpn2 klaten yang berdekatan dengan kalilunyu.

Salam Sungai Klaten:

Foto dari Kalilunyu

Sumber: Arif, Anggota IABI

Hari Kesiapsiagaan Bencana: Siap untuk Selamat

Kepala BNPB dan Ketua IABI dalam Acara HKB

BANDUNG – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong gerakan kepada individu, keluarga maupun komunitas untuk siap menghadapi bencana. Langkah ini dimulai sejak 2017 lalu dengan penyelenggaraan Hari Kesiapsiagaan Bencana yang jatuh setiap tanggal 26 April.

Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) bukanlah seremoni tetapi upaya konkret untuk mengubah perilaku untuk membangun kesiapsiagaan diri, keluarga dan komunitas. Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan bahwa HKB mengedepankan aksi nyata seperti pemeriksaan keberadaan dan keberfungsian kelengkapan sarana dan prasarana keselamatan, seperti adanya rambu dan jalur evakuasi yang aman serta titik kumpul, tersedianya alat pemadam api, manajemen keselamatan bangunan-bangunan bertingkat, dan sebagainya.

“Juga melatih evakuasi dengan tenang dan tidak panik merupakan kunci keberhasilan dalam menghadapi ancaman bencana,” ujar Doni dalam latihan HKB pada Jumat (26/4) yang berlangsung di Sesko TNI AU, Lembang, Jawa Barat.

HKB merupakan kesempatan berharga yang melibatkan semua pihak untuk melakukan latihan penanggulangan bencana. Upaya tersebut juga bisa diawali dengan langkah yang sangat sederhana dalam lingkup keluarga, misal mengidentifikasi lingkungan sekitar terhadap ancaman bahaya atau memperkirakan akses evakuasi dilihat dari sekat di dalam rumah.

Melalui latihan, BNPB mengharapkan masyarakat dapat mengasah naluri untuk dapat bertahan hidup. Hal tersebut diusung pada HKB dengan slogan ‘Siap Untuk Selamat.’ Latihan tersebut harus dimulai dari diri sendiri, keluarga dan komunitas. Menurut Doni, pendidikan paling dini wajib dilakukan mulai dari rumah. Untuk itu peran ibu dan perempuan menjadi sangat penting. Menyadari hal tersebut, pada tahun 2019 ini kita memilih tema “Perempuan Sebagai Guru Kesiapsiagaan dan Rumah Sebagai Sekolahnya”.

“Selain pentingnya pendidikan dini, perempuan dan ibu dipilih karena memiliki sifat melindungi, aktif dalam kelompok sosial dan komunitas dan juga merupakan sosok pembelajar,” kata Doni.

Sementara itu, selama ini perempuan termasuk salah satu kelompok yang paling banyak menjadi korban bencana karena kurang pemahamannya akan risiko dan besarnya keinginan mereka untuk menolong keluarganya, namun belum memiliki kapasitas yang memadai.

BNPB berharap setiap fasilitas yang dimiliki atau dikelola oleh pemerintah ataupun swasta untuk melaksanakan latihan atau simulasi bencana di lingkungan mereka masing-masing. HKB tahun ini diikuti oleh berbagai pihak di seluruh Indonesia dengan pelibatan berbagai pihak, mulai dari kementerian/lembaga, TNI, Polri, dunia usaha, perguruan tinggi hingga masyarakat. Tercatat di situs siaga.bnpb.go.id sejumlah 53.086.119 partisipan berkomitmen untuk berpartisipasi dalam HKB 2019.

Bercermin dari bencana sepanjang tahun 2018, jumlah kejadian bencana sebanyak 2.572 telah mengakibatkan korban meninggal dan hilang mencapai 4.814 jiwa, luka-luka 21.064, mengungsi 10,2 juta, serta kerugian mencapai lebih dari Rp 100 triliun, baik kerugian
material maupun lainnya. Di sisi lain, catatan para pakar menyebutkan beberapa bencana di Indonesia kerap berulang.

BNPB dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan HKB bertempat di Lembang.
Terkait dengan wilayah Lembang, hasil kajian Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menunjukkan bahwa wilayah ini teridentifikasi Sesar Lembang yang berpotensi gempa magnitudo maksimum M 6.8.

Beberapa rangkaian kegiatan meliputi ikrar sukarelawan, pengukuhan forum PRB Jawa Barat dan Pembina Pramuka Siaga Bencana, geladi ruang, penanaman pohon dan rambu bencana, geladi lapang, penandatanganan nota kerja sama, peluncuran produk kesiapsiagaan, dan fieldtrip menuju Tebing Keraton. Sejumlah lebih dari 2.000 orang terlibat dalam penyelenggaraan HKB di Lembang yang digelar sejak 22 hingga 26 April 2019.

Sumber:

Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB

https://siaga.bnpb.go.id/hkb/berita/hkb-bukan-seremoni-hkb-gerakan-ubah-perilaku-untuk-kesiapsiagaan

SPAB: Membangun dan Menanamkan Kesiapsiagaan Bencana di Sekolah

Akhir tahun 2018 merupakan masa berkabung bagi warga Indonesia. Bencana mulai dari Gempa Lombok di Bulan Agustus. Diikuti dengan gempa, tsunami dan likuifaksi di bulan September. Diikuti dengan banjir di Mandailing Natal di bulan Oktober serta Gempa dan Tsunami Banten di Bulan Desember membuat seantero Indonesia berduka atas kehilangan yang dialami oleh para korban. Peristiwa ini juga menyebabkan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, mengingat geografi Indonesia yang terletak di lempeng yang rawan akan bencana.

Salah satu stakeholder yang berperan dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana adalah institusi pendidikan, dalam  hal ini adalah sekolah. Sekolah sebagai institusi yang setiap harinya didatangi oleh para siswa, Sekolah menjadi potensi dalam menanamkan nilai-nilai kesiapsiagaan menghadapi bencana dalam skala besar mengingat ada sekitar 61 juta anak yang berada di sekolah (Kemendikbud, 2018) dan jumlah ini belum menghitung siswa yang berada di madrasah dan lembaga pendidikan lain. Banyaknya siswa yang datang ke sekolah membuat sekolah harus menjadi lembaga yang aman dan siap siaga menghadapi bencana. Terlebih di Indonesia, bencana bisa kapan datang saja dan dimana saja. Dampak tersebut akan lebih parah jika bencana terjadi pada saat proses belajar-mengajar sedang berlangsung di sekolah, karena reruntuhan bangunan dan benda sekitarnya dapat menimpa dan atau menimbun peserta didik, guru maupun tenaga kependidikan lainnya. Jumlah sekolah juga di tahun 2018 mencapai 307.655 (Kemendikbud, 2018) dan sekolah yang tidak aman tentu saja akan membuat sekolah rawan untuk runtuh dan hancur. Tentu saja ini menambah beban negara yang wajib merenovasi sekolah yang rusak. Maka dari itu, persiapan sekolah sebagai fasilitas dan tempat yang aman untuk menghadapi bencana menjadi penting untuk dilakukan.

Selain itu, sekolah berpotensi sebagai institusi yang dapat menanamkan nilai-nilai siaga dalam menghadapi bencana lewat kurikulum yang ada. Kurikulum sendiri ada yang sifatnya intra dan esktra sehingga banyak kegiatan di sekolah yang dapat diarahkan untuk hal ini. Dengan penanaman dari sejak dini diharapkan setiap insan di Indonesia dapat siap menghadapi bencana.

Maka dari itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membentuk Sekretariat nasional satuan Pendidikan Aman bencana (SPAB) yang dipimpin oleh Kemendikbud dengan keanggotaan; Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementarian Agama (Kemenag), Kementerian Perlindungan anak dan Perempuan (KPPA), serta berbagai Lembaga non pemerintah, sebagaimana tercantum dalam lampiran surat keputusan Menteri Pendidikan dan kebudayaan no 110/P/2017. SPAB bertugas sebagai berikut:

  • Melakukan pemetaan program aman bencana untuk kegiatan pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana di satuan pendidikan yang dilaksanakan oleh unit kerja terkait;
  • Mengoordinasikan pelaksanaan rencana aksi program satuan pendidikan aman bencana 2015 – 2019;
  • Melakukan pendampingan teknis penerapan satuan pendidikan aman bencana;
  • Mengumpulkan, mengelola, dan menyebarluaskan praktik baik penerapan satuan pendidikan aman bencana melalui media komunikasi informasi dan edukasi;
  • Mengevaluasi pelaksanaan program pra bencana tanggap darurat dan pasca bencana di bidang pendidikan;
  • Menyusun laporan kemajuan pelaksanaan penerapan satuan pendidikan aman bencana.

Salah satu produk yang telah dihasilkan oleh SPAB adalah modul persiapan bagi sekolah dalam menghadapi bencana. Terdapat 3 modul yang menggambarkan 3 pilar dalam menghadapi bencana dengan detil sebagai berikut :

Adanya SPAB membuktikan perlunya kolaborasi dari berbagai pihak dalam meningkatkan kesadaran menghadapi bencana. Semoga dengan roadmap yang direncanakan oleh Tim SPAB dapat membangun insan individu yang siap siaga menghadapi bencana.

Rapat Persiapan PIT ke-6

Rapat Persiapan PIT ke-6

 

Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-6 merupakan acara akbar tahunan yang diselenggarakan oleh IABI bekerja sama dengan BNPB. Tahun ini, IABI dan BNPB berkolaborasi dengan Universitas Pertahanan (UNHAN) untuk menyelenggarakan PIT ke-6 yang rencananya diadakan pada 18-19 Juni 2019 di dua lokasi yaitu Gedung INA-DRTG BNPB Sentul dan Kampus Universitas Pertahanan Sentul.

Karena sudah memasuki tahun ke-6, IABI ingin PIT ini menjadi ajang sosialisasi terkait inovasi kebencanaan baik bagi anggota IABI sendiri dari kalangan akademisi, praktisi, peneliti dan perekayasa maupun masyarakat umum. Berbagai rangkaian acara diselenggarakan seperti diskusi panel ilmiah untuk call for paper, seminar internasional, special session, lomba tematik kebencanaan maupun Pameran Expo Kebencanaan yang dapat diikuti secara gratis. Rapat persiapan kali ini membahas beberapa teknis untuk memastikan PIT ke-6 berjalan lancar. Rapat ini sendiri dipimpin oleh Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB, Bapak Lilik Kurniawan, S.T., M.Si. Rapat ini juga mengundang beberapa stakeholder terkait seperti UNHAN, Kemenristekdikti, BMKP, BPPT dan U-Inspire. U-Inspire sendiri akan mengisi sesi spesial ‘mini hackathon’.

Informasi mengenai PIT ke-6 sendiri dapat di lihat di sini. (ANA)

IABI Jatim: Terus Berkolaborasi

Proses Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara IABI JATIM dan dan BPPD JATIM

Tentunya Penandatanganan PKS ini merupakan bukti nyata IABI Jatim untuk terus berperan aktif dalam pembangunan nasional terkait kebencanaan.

Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) cabang Jawa Timur terus mencoba berkolaborasi.Kali ini secara resmi, IABI Jatim menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur. Salah satu tindak lanjut dari PKS ini adalah kolaborasi antara IABI dan BPBD Jatim dengan mengajak Perguruan Tinggi se-Jawa Timur (baik negeri maupun swasta) untuk membuat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Desa Tangguh Bencana. Nantinya diharapkan program KKN yang diadakan Perguruan Tinggi dapat menguatkan kapasitas masyakarat di daerah rawan bencana. Tentunya Penandatanganan PKS ini merupakan bukti nyata IABI Jatim untuk terus berperan aktif dalam pembangunan nasional terkait kebencanaan. Proses penandatanganan ini disaksikan oleh Prof. Syamsul Ma’arif dan juga Wakil Gubernur Jawa Timur

Repdeman: Mengingat Masa Lalu untuk Menghadapi Bencana Masa Kini

“Bagi orang Mentawai masa lalu, gempa adalah sebuah petanda berkah yang perlu disyukuri”

Di tahun 2010, Indonesia dikejutkan oleh Gempa Mentawai yang membawa gelombang tsunami yang menghantam Kepulauan Mentawai. Tsunami ini menyebabkan jatuhnya sekitar 448 korban jiwa dengan sekitar 100 orang lainnya dinyatakan hilang. Dari sejak tsunami Aceh, area pulau sumatera memang diprediksikan akan mengalami gempa berdasakan alur pergeseran lempeng yang berada di dekat pulau tersebut. Gempa Mentawai dapat dibilang cukup unik karena berbeda dengan gempa-gempa yang berpotensi Tsunami yang telah terjadi sebelumnya seperti di Aceh pada tahun 2004, Gempa Nias pada tahun 2005, dan Gempa Bengkulu pada tahun 2005. Saat gempa dan tsunami Aceh terjadi, para peneliti, praktisi dan pekerja kemanusiaan berlomba-lomba mencari tanda-tanda untuk gempa yang berpotensi Tsunami agar bisa menjadi alarm bagi masyarakat untuk segera evakuasi. Beberapa tanda-tanda yang tersebar di masyarakat adalah air laut yang surut dan durasi datangnya tsunami baru terjadi 30 menit kemudian. Pada Kepulauan Mentawai, situasi air surut tidak terjadi, bahkan Tsunami terjadi setelah alarm potensi tsunami mati. Situasi Gempa dan Tusnami Mentawai yang unik ini diangkat dalam film documenter berjudul Repdeman yang menceritakan gempa dan tsunami Mentawai di tahun 2010.

Repdeman merupakan film produksi Watchdog yang bekerja sama dengan peneliti, praktisi dan pekerja kemanusiaan yang berkecimpung dalam turun dalam peristiwa gempa dan tsunami di Mentawai. Repdeman  ahasa Mentawai dari kata dasar “repdep” yang artinya ingat. Repdemen adalah ingatan, kenangan, sesuatu yang membuat kita tidak lupa tentang sesuatu.

Film Repdeman berusaha mempertemukan masa kini dengan masa lalu. Dalam film Repdeman diketahui bahwa gempa dan tsunami merupakan fenomena yang telah terjadi sejak zaman nenek moyang penduduk di Kepulauan Mentawai. Di Dusun Ugai, Desa Magabong terdapat cerita rakyat tentang gempa yang masih dipelihara oleh kepala suku.

Bagi orang Mentawai pada masa lalu, gempa adalah sebuah pertanda berkah yang perlu disyukuri, namun juga bisa menjadi pertanda buruk yang mungkin akan terjadi. Ketika merasa guncangan bumi, mereka berucap syukur dan berbicara kepada roh yang mereka percayai yang menjaga bumi untuk berguncang dengan pelan-pelan atau moile-moile dengan suara pelan mereka berkata dengan tenang dan tidak panik.

“ada cerita yang diturunkan dari nenek moyang jika katak dan hewan tanah tidak (sisoibilago) berbunyi, akan terjadi gempa bumi. Kita harus tetap tenang dan tidak boleh panik namun harus segera pergi ke tempat yang lebih aman”, ujar Kepala Suku Dusun Ugai. Menurutnya, cerita-cerita inilah yang harus diingat dan diturunkan ke anak cucu agar mereka bisa lebih peka mengenai tanda-tanda gempa yang berpotensi Tsunami.

Mereka masih mengingat apa yang mereka alami saat gempa dan tsunami sambil mereka menghadapi rasa traumanya saat kejadian bencana, rasa sedih kehilangan orang-orang yang dikasihi dan perjuangan untuk bangkit secara ekonomi setelah semua harta benda hilang disapu ombak Tsunami setinggi 12 meter.

Film Repdeman juga menyajikan penonton bagaimana survivor Mentawai masa kini. Mereka masih mengingat apa yang mereka alami saat gempa dan tsunami sambil mereka menghadapi rasa traumanya saat kejadian bencana, rasa sedih kehilangan orang-orang yang dikasihi dan perjuangan untuk bangkit secara ekonomi setelah semua harta benda hilang disapu ombak Tsunami setinggi 12 meter. Beberapa penduduk mulai berpindah dari Hunian Sementara (Huntara) yang dibangun oleh Pemerintah atau Lembaga Donor ke Hunian Tetap (Huntap) di lokasi yang lebih tinggi. Di lokasi Huntap mereka kesulitan untuk mencari nafkah padahal harga sandang dan pangan yang lebih mahal karena lokasi Huntap yang tidak strategis membat mobilisasi orang dan produk menjadi lebih sulit. Mereka juga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Beberapa penduduk masih tinggal di desa mereka yang dulu ketika hari kerja untuk mencari nafkah berupa ikan, lobster, kerang dan kopra. Mereka baru tinggal di Huntap saat hari libur untuk beribadah. Untuk mencari nafkah ini, penduduk Desa masih harus berjalan lebih dari dua (2) jam. Mereka juga kesulitan mendapatan akses ke fasilitas umum seperti Puskesmas dan Sekolah.

Walau banyak korban jiwa pada gempa dan tsunami 2010, para peneliti berpendapat bahwa energi yang dikeluarkan “megathrust Mentawai” masih belum maksimal. Goncangan yang terjadi masih dianggap kecil sehingga tidak membuat orang merasa takut. Maka dari itu, daerah Kepulauan Mentawai diprediksikan masih akan mengalami gempa dengan skala yang lebih besar. Film Repdeman adalah sebuah usaha, pengingat bagi kita semua jika pengetahuan atau cerita masa lalu dari nenek moyang penting untuk dijaga dan dipelihara. Karena gempa dan tsunami adalah proses alam yang biasanya terjadi berulang sehingga seharusnya kita tidak lupa. Sebagai usaha pengingat, film Repdeman ini patut untuk diberikan standing applause. (ANA).

Menghadapi Bencana: Apa yang harus disiapkan?

Bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Ditambah lagi Indonesia berada dalam Kawasanring of fire yang membuat masyarakat Indonesia rentan mengalami bencana, mulai dari erupsi gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami. Dalam menghadapi ini, masyarakat Indonesia dituntut harus siap sedia menghadapi segala ancaman bencana.

Selain peningkatan awareness mengenai mitigasi bencana dan risiko bencana di tempat tinggal, individu juga harus tahu mengenai barang-barang yang perlu disiapkan ketika bencana terjadi. Barang-barang ini diharapkan dapat membantu individu untuk bertahan di tengah kondisi sehabis bencana yang biasanya chaos. Persiapan ini juga diharapkan dapat membuat individu tidak panik ketika bencana terjadi.

Barang-barang yang disiapkan untuk menghadapi bencana ini, dapat dimasukkan ke dalam satu tas. Sebagai contoh, IABI mengambil infografis yang dibuat Pusat Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia berkaitan dengan barang-barang yang harus disiapkan agar siap ketika bencana terjadi.

Isi Tas Siaga Bencana

Melihat riwayat bencana Indonesia, tidak ada salahnya jika kita mulai mempresiapkan diri dari sekarang bukan? (ANA)

UNAND Tuan Rumah PIT ke-5

Gedung Pascasarjana, Universitas Andalas

1 May 2018 – 4 May 2018

Melanjutkan 4 pertemuan ilmiah sebelumnya, pada tahun 2018 PIT ke-5 diselenggarakan di Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat pada hari Rabu-Jum’at, 2-4 Mei 2018. Kegiatan PIT ke 5 tahun 2018 terdiri dari Konferensi internasional, Seminar nasional (diskusi panel/paralel), Expo/pameran kebencanaan, Disaster management event, Geopark study visit, Peresmian taman edukasi  kebencanaan.

Seminar Nasional (Semnas) PIT5-IABI ini diharapkan akan dihadiri oleh 200 orang peserta dan pemakalah. Makalah untuk Semnas ini mengambil tema ‘Manajemen Bencana Berkelanjutan’ dengan beberapa sub-tema. Pemakalah bisa melihat call for paper yang telah disediakan panitia, mengikuti petunjuk penulisan, dan submit makalah tersebut ke website ini. Makalah kami tunggu sampai tanggal 1 Maret 2018.

sumber : http://seminar.unand.ac.id/index.php/iabi/pit5iabi2018