Dr. Harkunti P. Rahayu Terpilih sebagai Ketua IABI Periode 2017-2020

Jakarta – Bertempat di Grand Ballroom Hotel Margo City Depok tanggal 9 dan 10 Mei 2017, acara Musyawarah Nasional (MUNAS) Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) diadakan untuk menentukan Ketua IABI Periode 2017-2020. Ketua IABI yang baru, menggantikan posisi Prof. Sudibyakto dari UGM yang telah menjabat sebagai ketua IABI untuk Periode 2014-2017. Pada acara tersebut, setidaknya 100 orang anggota IABI yang berasal dari perwakilan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, akademisi, praktisi, perekayasa dari berbagai provinsi di Indonesia hadir untuk menentukan Ketua IABI yang baru melalui musyawarah.

Pada akhir kegiatan MUNAS, Dr. Harkunti Rahayu Pertiwi dari ITB akhirnya terpilih sebagai ketua IABI yang baru untuk periode 2017-2020. Usai terpilih Dr. Harkunti berharap bahwa IABI kedepan bisa menjadi lebih baik dan mumpuni. Pada periode kedua kepengurusan IABI ini, anggota IABI juga berharap IABI dapat terus berkembang dan dapat menjadi jembatan antara akademisi dan para birokrat guna memastikan kebijakan yang dibuat berlandaskan IPTEK. FS

BNPB bentuk Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia

Minggu, 21 September 2014 14:59 WIB | 6.401 Views

Pewarta: Aprionis

 

Dokumentasi petani memanen kopi yang tertutup debu vulkanik Gunung Sinabung, di Desa Kuta Rakyat, Karo, Sumatera Utara, Kamis (6/2). Meskipun sebagian besar lahan para warga rusak akibat letusan gunung berapi itu, beberapa petani tetap memanen tanaman mereka untuk dijual. (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)

 … peserta pertemuan itu sebanyak 365 ilmuwan, peneliti, perekayasa, akademisi dan praktisi di bidang kebencanaan… ”

Jakarta (ANTARA News) – Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB), membentuk Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) untuk membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi kebencanaan dalam mengurangi risiko bencana.

“IABI ini forum para ahli kebencanaan dalam mempercepat penanggulangan bencana alam seperti tsunawi, kebakaran hujan, banjir, gempa bumi dan lainnya,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi Humas BNPB, Sutopo Nugroho, di Jakarta, Minggu.

Ia menjelaskan, IABI terbentuk sebagai hasil Pertemuan Ilmiah Tahunan 2014 di Surabaya pada Juni 2014 yang didukung Kemdikbud dan Kemristek.

“Pertemuan pertama ini telah sukses menghasilkan cetak biru penelitian kebencanaan untuk periode 2015 hingga 2019,” ujarnya.

Selain cetak biru tersebut, kata dia, para peserta pertemuan itu sebanyak 365 ilmuwan, peneliti, perekayasa, akademisi dan praktisi di bidang kebencanaan.

“Para ilmuwan ini setuju membentuk suatu wadah dalam saling berkoordinasi dan berkomunikasi, bertukar pikiran dan informasi untuk melaksanakan peran mereka menggunakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi membangun ketahanan di semua tingkatan,” ujarnya.

Menurut dia, sebagai wadah koordinasi dan berbagi antar pelaku ini dapat pengurangan risiko bencana dan dapat membangun kesadaran bersama dan mampu membangun dialog serta mengembangkan jejaring antarpihak.

Selain itu, kegiatan ini juga dapat menyinergikan kegiatan sektoral sehingga dapat dijadikan ajang pembelajaran bersama bagi IABI seluruh Indonesia.

“Dalam penangganan bencana diperlukan pemikiran dan teknologi yang tepat, sehingga penangganan dan mencegah bencana tersebut dapat  tepat dan cepat serta kerugian dapat ditekan,” ujarnya.
Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2014

 

 

http://www.antaranews.com/berita/454636/bnpb-bentuk-ikatan-ahli-kebencanaan-indonesia

PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN (PIT) IABI TAHUN 2017 UI JAKARTA 8 – 9 MEI 2017

Reportase oleh : dr. Sulanto Saleh Danu, Sp. FK dan Sutono, SKp. M.Sc., M.Kep

Pembukaan acara PIT IABI dilaksanakan di Gedung Balairung UI Depok yang diawali dengan Sambutan Rektor UI, Prof.Dr. Ir. Muhammad Anis, M. Met. Sebagai ketua IABI saat ini Prof. Dr. Sudibyakto juga memberikan sambutan dan melaporkan secara singkat perjalanan IABI sampai saat ini, dan dilanjutkan sambutan sekaligus pembukaan oleh Wakil Presiden RI, Dr. H. Muhammad Jusuf Kalla.

Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, dalam Pembukaan Pekan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-4 dan Munas Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) di di Balairung Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat, Senin (8/5), kembali mengingatkan agar masyarakat Indonesia meningkatkan kultur sadar bencana pada Senin (8/5/2017). “Meningkatnya bencana di Indonesia perlu diantisipasi dengan mengembangkan kultur sadar bencana untuk mengurangi risiko bencana. Bencana bersifat multidimensi sehingga semua ilmu harus memberikan solusi terhadap bencana. Selalu dinamis dan harus dapat dilakukan preventif,” ujar Jusuf Kalla.

“Saya sharing pengalaman, sebab selama 17 tahun saya ikut serta dalam penanganan bencana. Sejak menjabat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat yang merangkap Ketua Bakornas, kemudian menjadi Ketua PMI. Apalagi saya terjun langsung menangani tsunami Aceh yang demikian dahsyat, kemudian gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Lalu gempa Sumatera Barat dan bencana lainnya. Kultur kebiasaan masyarakat di Simeulue sudah menjadi kultur masyarakat Indonesia saat ini. Begitu merasakan gempa besar langsung berlari ke bukit. Saat tsunami Aceh, kultur masyarakat Simeulue ini telah menyelamatkan warga sekitar. Hanya ada korban 10 jiwa, sedangkan di Aceh yang tidak memiliki kultur ini korbannya lebih dari 100 ribu jiwa,” tambah Jusuf Kalla.

Wapres juga menyampaikan, “Ternyata intensitas gempa tidak simetris dengan korban gempa. Kita lihat gempa 6,3 SR di Yogyakarta dan Jawa Tengah tahun 2006 menelan korban 5.700 jiwa meninggal, sedangkan gempa 7,6 SR di Sumatera Barat menyebabkan 1.700 orang meninggal dunia. Dampak gempa tergantung pada lokasi, waktu,  dan kondisinya. Di Yogya penduduk lebih padat, rumah beratap genteng, kejadian pada subuh. Sedangkan gempa di Sumatera Barat terjadi pada sore hari dengan penduduk yang tidak sebanyak di Jawa. Jadi 4 hal yang harus dijawab para peneliti, akademisi, praktisi dan lainnya adalah apa, dimana, kenapa dan bagaimana? Iptek harus mampu memprediksi secara tepat. Untuk dapat mengatasi bencana maka ada 3 tahapan yaitu pertama tanggap darurat. Prioritas adalah penyelamatan korban. Kedua adalah rehabilitasi dan ketiga rekonstruksi. Saat pasca tsunami, pemerintah menetapkan tanggap darurat selama 3 bulan, kemudian rehabilitasi 3 bulan dan selanjutnya rekonstruksi selama 3 tahun. Hal yang sama juga kita lakukan saat penanganan gempa Yogyakarta. Cepatnya penanganan bencana ini menjadi contoh dunia. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan penghargaan Global Champion for Disaster Risk Reduction kepada Pemerintah Indonesia.”

Wapres juga meminta agar bencana makin meningkatkan kesadaran akademisi dan ilmuwan untuk mencari inovasi dan kreativitas sehingga korban bencana dapat dikurangi.

Kepala BNPB Willem Rampangilei dalam sambutannya menyatakan, “Jutaan penduduk Indonesia tinggal di daerah bencana. 150 juta penduduk di daerah rawan gempa, 64 jiwa di daerah rawan banjir, dan 41 juta di daerah rawan longsor dan sebagainya. Sementara itu kejadian bencana terus meningkat setiap tahun. Kapasitas penanggulangan bencana Pemda masih belum merata. Penyebab bencana disebabkan laju degradasi lingkungan lebih cepat dari pemulihan. Untuk mengantisipasi bencana maka pencegahan dan penanggulangan bencana menjadi prioritas pembangunan nasional. Pencegahan menjadi lebih prioritas. Diharapkam IABI dapat meningkatkan jejaring iptek untuk penanggulangan bencana. Investasi pengurangan risiko bencana dapat menjadi penggerak ekonomi pembangunan.”

Rektor UI, Muhammad Anis mengungkapkan Indonesia adalah laboratorium bencana yang menjadi tantangan bagi para pendidik, peneliti, serta praktisi. UI sebagai tuan rumah menyambut baik kegiatan ini. Pendidikan bencana berkembang pesat karena multidimensi. UI telah menghasilkan beberapa inovasi makanan untuk darurat bencana. UI menyelenggarakan simulasi dan pendidikan bencana. Saat terjadi bencana UI selalu mengirimkan relawan dan UI Peduli membantu masyarakat dan Pemda dalam penanganan bencana. Diharapkan PIT dapat menghasilkan inovasi dan terobosan.

Selama tiga hari (8 – 10/5), para ahli nasional dan internasional di bidang kebencanaan akan saling berbagi pengalaman, sharing knowledge serta brainstorming secara komprehensif terkait kebencanaan dan mensinergikan sains, teknologi, dan inovasi terkait kebencanaan. Dengan tema “Peran Masyarakat Bagi Pencapaian SDGs : Kontribusi Pemangku Kepentingan Untuk Penurunan Risiko Bencana”, diharapkan pertemuan ilmiah ini mampu menghasilkan keluaran berupa tersusunnya Blue PrintRiset Kebencanaan sebagai acuan dalam perencanaan dan penganggaran sesuai dengan kebutuhan penanggulangan bencana di Indonesia.

 

 

http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/kegiatan-pvmbg/kegiatan-diseminasi-informasi/1553-pertemuan-ilmiah-tahunan-pit-riset-kebencanaan-ke-4-ikatan-ahli-bencana-indonesia-iabi

INDONESIA MEMANGGIL

 

Memasuki tahun ketiga berdirinya Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) dan dengan seiring berkembangnya IPTEK sebagai dasar bagi pengambilan kebijakan kebencanaan di Indonesia. Maka diperlukan organisasi independen yang mampu memberikan masukan membangun bagi perencanaan kebijakan kebencanaan di Indonesia yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

IABI dengan bangga menyelenggarakan Pemilihan Ketua IABI Periode 2017-2020 yang akan dilaksanakan pada tanggal 08 Mei 2017 bertempat di Hotel Margo City, Depok.

Untuk itu bagi anda yang merasa mampu dan layak memimpin IABI untuk menjadi organisasi yang mewadahi para peneliti, perekayasa, akademisi, dan praktisi kebencanaan di Indonesia. Kami membuka kesempatan bagi anda untuk memimpin IABI untuk periode 2017-2010.

Persyaratan:
1. Terdaftar sebagai Anggota IABI
2. Mengirimkan CV beserta portofolio kebencanaan anda ke email sekretariat@iabi-indonesia.org paling lambat 14 April 2017.

Informasi lebih lanjut akan diumumkan via website IABI www.iabi-indonesia.org

 

 

Pengumuman Abstrak Terpilih

Terimakasih atas partisipasi Anda pada Call for Abstracts PIT ke-4 Riset Kebencanaan. Proses seleksi abstrak telah dilaksanakan dan terpilih 75 (tujuh puluh lima) abstrak yang berhak untuk dikembangkan menjadi full paper dan mengikuti oral presentation pada tanggal 8-10 Mei 2017.

Pengumuman lolos abstrak bisa dilihat di sini

KETENTUAN DAN INFORMASI:

  • Format penulisan makalah dapat dilihat di sini
  • Full Paper dan Materi Persentasi dikirimkan melalui email ke alamat iabi.indonesia@gmail.com dan dikumpulkan paling lambat tanggal 30 April 2017. Harap mencantumkan judul email sebagai berikut:  PAPER_<Sub Tema> _<Nama Penulis Pertama>.
  • Apabila ada informasi dan ketentuan tambahan, maka panitia akan mengirimkan informasi kepada para peserta melalui email dan mempublikasikannya di www.iabi-indonesia.org

Panitia mengucapkan selamat kepada para peserta dengan abstrak terpilih.

Panitia juga menyampaikan penghargaan dan permohonan maaf terhadap peserta yang abstraknya tidak tercantum pada daftar di atas dapat diikutsertakan dalam sesi poster ilmiah yang akan diseleksi menjadi 60 besar untuk dapat ditampilkan pada pameran riset kebencanaan yang diselenggarakan di kampus UI pada tanggal 08-10 Mei 2017. Format layout poster ilmiah dapat dilihat di sini. File Poster dikirimkan dalam bentuk pdf melalui email iabi.indonesia@gmail.com paling lambat pada tanggal 14 April 2017 Pk. 24:00 dengan subject POSTER_<Sub Tema> _<Nama penulis pertama>

Terimakasih atas antusiasme, dukungan, dan partisipasi dalam Call for Papers PIT ke-4 Riset Kebencanaan.

Call For Abstracts PIT #4

Hobi menulis tentang Kebencanaan?

Ingin update perkembangan kekinian tentang kebencanaan?
Atau..
Mau berwisata ke Jakarta nanti di bulan Mei?

Segera kirim abstrak tulisan ke PIT Riset Kebencanaan ke-4!

Abstrak dapat langsung disubmit melalui email IABI sesuai ketentuan berikut:

brosur CoP

Rapat persiapan PIT 2017

Rapat IABI 20 Januari 2017

Sentul (20/1) – Jumat, 20 Januari 2017, bertempat di Direktorat Pengurangan Risiko Bencana (PRB) BNPB Sentul, Jawa Barat, Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) menyelenggarakan persiapan acara Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) 2017. Rapat ini merupakan rapat ketiga persiapan PIT 2017 yang diselenggarakan oleh BNPB dan IABI. Rapat dihadiri oleh  Wakil Ketua IABI, Bapak Ir. Sugeng Triutomo, DESS, Sekretaris Jenderal IABI Bapak Lilik KurnIawan, ST, M.Si., pengurus IABI, dan panitia dari Universitas Indonesia selaku tuan rumah acara PIT 2017. Rapat kali ini turut dihadiri perwakilan komunitas kebencanaan di Jakarta yaitu Komunitas Mat Peci dan Komunitas Sekolah Sungai Jakarta (SSJ).

            Acara PIT 2017 rencananya akan diselenggarakan di Universitas Indonesia, Depok pada tanggal 8-10 Mei 2017. Tema yang diangkat pada tahun ini adalah “Peran masyarakat bagi pencapaian SDGs: kontribusi pemangku kepentingan untuk penurunan tingkat risiko bencana” dengan penekanan pada isu sosial dan IPTEK. PIT 2017 didesain berbeda dari penyelenggaraan PIT di tahun-tahun sebelumnya, dimana pelaksanaan PIT 2017 akan dimulai dengan rangkaian acara pra PIT yang diselenggarakan secara simultan sejak bulan Januari hingga Mei 2017.

            Acara yang direncanakan pada event pra PIT diantaranya adalah seminar, workshop, bedah buku, simposium, dan acara lainnya. Selain itu pada acara pra PIT juga akan diselenggarakan penggalangan dana melalui program UI peduli pada tanggal 7 Mei di Depok. Panitia pelaksana PIT 2017 berharap dengan diselenggarakannya rangkaian acara pra PIT, dapat semakin melibatkan banyak aktor kebencanaan dan juga meningkatkan animo masyarakat umum bagi pelaksanaan acara PIT. Selain itu juga dilakukan guna mempromosikan penelitian kebencanaan dengan cara yang lebih kreatif dan atraktif (Fajar Shidiq).

 

Banjir Bandung Akhir Tahun 2016

Banjir Pasteur. [Twitter]

Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia menyebut bencana banjir yang terjadi di Kota Bandung Senin (24/10/2016) kemarin merupakan banjir yang paling parah sejak 10 hingga 20 tahun terakhir ini.

Banjir jenis Urban Flood memang hampir selalu mengancam kota-kota besar di Indonesia.

“Secara geomorfologi, Kota Bandung berupa cekungan yang dikelilingi oleh banyak pegunungan di sekitarnya,” kata Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Prof Dr Sudibyakto, melalui rilis yang diterima Tribun Jabar, Selasa (25/10/2016).

Dengan begitu, kata Sudibyakto, aliran air yang jatuh di wilayah Kota Bandung seharusnya mengalir melalui sistem sungai dan sistem drainase kota. Aliran air itu, menuju ke “single outlet” dan akhirnya sebagian besar limpasannya menuju ke sungai dan waduk Saguling, Waduk Cirata, dan Waduk Jatiluhur.

“Adanya tiga waduk besar dalam satu sistem DAS tersebut dapat mengurangi risiko banjir di bagian hilir DAS Citarum seperti Purwakarta dan sekitarnya,” kata Sudibyakto.

Menurut Sudibyakto, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab banjir di Kota Bandung kemarin.

Pertama curah hujan dengan intensitas sangat tinggi (>60 mm/jam) dengan durasi singkat. Hal itu menyebabkan debit sungai dan saluran drainase kota terlampaui, sehingga terjadi banjir besar.

“Kemampuan lahan tidak mampu menyerap (infiltrasi) lebihan air hujan (excess rainfall), sehingga kapasitas infiltrasi tanah lebih kecil daripada intensitas hujan,” kata Sudibyakto.

Beruntung sistem drainase Kota Bandung yang bertopografi miring sehingga banjir berlangsung cepat.

Selain itu, kata dia, perubahan tata guna lahan dan tata ruang wilayah hulu daerah aliran Sungai (DAS) Citarum berpengaruh besar terhadap banjir Kota Bandung.

Urbanisasi dan munculnya kompleks perumahan kumuh di sepanjang sungai juga menyumbang debit banjir.

“Ada korelasi positif antara pertambahan jumlah penduduk kota dan frekuensi banjir,” kata Sudibyakto.

(Sumber : TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG)