Menghadapi Kekeringan

Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Untuk menghadapi kekeringan, Dr. Agus Maryono, salah satu pengurus inti IABI mengemas dengan apik apa yang harus dilakukan dalam menghadapi kekeringan. Materi tersebut dapat diunduh di sini.

 

Mengenang Pak Topo

Jika boleh jujur, saya tidak kenal langsung dengan Pak Topo. Selama saya berkecimpung dalam bidang kebencanaan, saya belum mendapat kesempatan berinteraksi langsung dengan beliau. Namun, setiap ada kesempatan membicarakan beliau, baik itu dengan orang BNPB, dengan BPBD, dengan anggota dan pengurus IABI, selalu hal baik yang diucapkan oleh tiap orang mengenai Pak Topo.

Siapa Pak Topo?

Sutopo lahir di Boyolali, Jawa Tengah, pada 7 Oktober 1969. Dia merupakan anak pertama Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari.[2] SD, SMP, dan SMAnya itu dijalani di kampung halamannya.[3]

Dia memperoleh gelar S-1 geografi di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1993, dan menjadi lulusan terbaik di sana pada tahun itu. Dia memeroleh gelar S-2 dan S-3 di bidang hidrologi di Institut Pertanian Bogor.[4] Menurut sebuah wawancara Sutopo bersama dengan detik.com, dia hampir menjadi profesor peneliti pada 2012, tetapi dikandaskan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia karena statusnya sebagai peneliti BPPT (Badan Pengkajian dan Penelitian Teknologi) yang bekerja di BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).[5]

Setelah lulus, dia mulai bekerja di BPPT pada 1994. Dia kemudian bekerja pada bidang penyemaian awan.[6] Perlahan-lahan, dia mulai naik pangkat ke Peneliti Senior Utama (IV/e).[5][7] Kemudian, dia membantu BNPB sebelum bekerja secara penuh di sana pada Agustus 2010. Awalnya, dia bekerja pada Direktur Pengurangan Risiko Bencana. Di bulan-bulan pertama dia bekerja, terjadi bencana-bencana terkenal yang menerjang Indonesia seperti banjir di Wasior, gempa bumi dan tsunami di Mentawai dan erupsi Gunung Merapi. Dia menjadi Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di November pada tahun itu.[2][3] Menurut Sutopo, dia menolak posisi tersebut sebanyak tiga kali, sebelum menerima gelar S-3, dia berkata bahwa orang akan memercayainya lebih karena itu.[8] Karena dia dikenal aktif memberitakan bencana di media sosialketika sedang berlangsung, The Straits Times menyebutnya sebagai “pejabat Indonesia yang paling sering dikutip dalam berita selama bencana berlangsung”.[9] Selama kerjanya di BNPB, dia diberi penghargaan “Public Campaigner” pada 2014 oleh rmol.co.[10]

Pada Januari 2018, Sutopo mengumumkan bahwa dia mengidap kanker paru-paru stadium IV dan masih berada di bawah tahap perawatan. Keluarga dan dokternya telah memintanya untuk berhenti beraktivitas, tetapi dia menolak, meskipun sakit. Karenanya dia juga terpaksa pakai morfin. Dia juga masih tetap bersemangat dan tak pernah surut, terutama jika berbicara dengan wartawan.[1] Dia diketahui masih aktif memantau bencana di media sosial, menyediakan informasi, dalam berbagai kejadian, serupa tenggelamnya KM Sinar Bangun[14] dan gempa Lombok pada 2018.[13][15] 

Pak Topo dan Kesiapsiagaan Bencana

Di tengah pertarungannya melawan kanker paru-paru, akun twitter Pak Topo menjadi selalu yang paling utama mengabarkan masyarakat Indonesia jika ada kondisi bencana yang terjadi. Salah satu posting beliau di twitter mengabarkan beliau tetap menginformasikan bencana longsor di Brebes walau beliau sedang menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto. Teman-teman wartawan mengenal kerendahan hati dan keramah-tamahan beliau. Mereka menyatakan bahwa Pak Topo selalu siap sedia dalam meladeni pertanyaan wartawan. Rekan-rekan beliau menghargai kerja keras yang telah dilakukan, baik sebagai peneliti, akademisi maupun kepada pusat data dan informasi BNPB. Beliau selalu mengingatkan dan menggaungkan kehati-hatian dalam menghadapi bencana.

Dalam menyebarkan informasi seputar kebencanaan di Twitter, tak jarang Sutopo turut menyebut akun non-pemerintah dan non-kebencanaan, termasuk penyanyi populer Raisa. Berdasarkan pantauan BBC News Indonesia, sudah lebih dari 90 kali juru bicara BNPB itu menyebut akun media sosial Raisa dalam cuitannya soal informasi terbaru tentang bencana atau sekadar informasi soal kemacetan.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat BNPB, Rita Rosita, yang bekerja di bawah Sutopo sejak 2015, menggambarkan sosok Sutopo sebagai “pejabat publik yang enerjik dan sangat mencintai dunia pekerjaannya sendiri.”

Sutopo, menurut Rita, memiliki pribadi yang menyenangkan dan selera humor.

“Beliau menjadi suatu ikon bagi kami sendiri di Pusdatinmas, menjadi contoh, menjadi motivasi lah bagi kami di bawahnya untuk bisa menjalankan tugas itu sebaik-baiknya,” imbuhnya.

Sementara Ketua BNPB Doni Monardo mengatakan bahwa Sutopo “telah ikut membesarkan nama BNPB sejak dibentuk pada tahun 2008.”

Kepada BBC News Indonesia, Doni mengurai sejumlah prestasi Sutopo, antara lain penghargaan di Bidang Inovasi Kebencanaan yang diterimanya dari PBB di Baku, Azerbaijan pada Januari 2019.

Penghargaan itu diberikan untuk situs web petabencana.id yang mengumpulkan, menyortir, dan menampilkan informasi banjir secara real-time dari informasi di media sosial. Maka dari itu tidak salah jika ikon kerja keras dan ketulusan disematkan ke Pak Topo.

Selamat beristirahat Pak Topo! Kami akan melanjutkan kerja keras Bapak!

(ANA)

Sumber:

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-48898761

https://id.wikipedia.org/wiki/Sutopo_Purwo_Nugroho

Belitung Peduli: Pendidikan Mitigasi Bencana

Belitung Peduli merupakan salah satu pihak yang aktif dalam membangun kesadaran masyarakat Belitung mengenai Mitigasi Bencana. Di Bulan Juni ini, Belitung Peduli kembali mengadakan acara untuk meningkatkan kesadaran pendidikan Mitigasi Bencana. Acara ini dimulai dengan Konvoi Kendaraan dari 40 Komunitas yang bergabung di bawah bendera Belitung Peduli. Di acara ini juga terdapat diskusi seru mengenai mitigasi bencana  yang diisi para ahli. Untuk meningkatkan kepedulian akan lingkungan, acara ini juga diakhiri dengan penanaman Mangrove. Berikut foto-foto dokumentasi pada acara ini

Kontributor: Juliana

Menristekdikti Minta Universitas Buka Prodi Mitigasi Bencana

Semarang – Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mendorong pembukaan program studi (prodi) kebencanaan di berbagai universitas.

Hal itu disampaikan Nasir usai memberikan kuliah umum di auditorium Universitas Negeri Semarang (Unnes), Rabu (2/1). Ia menyebutkan dalam rencana induk riset nasional 2017-2045, masalah kebencanaan sudah masuk di dalamnya.

“Ini harus kita lakukan agar semua bisa berjalan dengan baik. Pendidikan tinggi yang akan mengajukan program studi kebencanaan adalah Universitas Syiah Kuala. Jadi, ada mahasiswa yang menekuni bidang kebencanaan,” kata Nasir di Unnes.

Ia juga meminta materi pelatihan tanggap bencana agar diberikan kepada seluruh mahasiswa baru di semua universitas.

“Nantinya akan kami masukkan menjadi materi bagi seluruh perguruan tinggi dalam menyambut mahasiswa baru (maba). Kami targetkan dapat dilaksanakan pada penerimaan mahasiswa baru (PMB) Tahun Akademik 2019/2020 ini,” ucap Nasir.

Peran Kemenristekdikti, lanjut Nasir, yaitu akan memberikan pengetahuan terkait mitigasi bencana kepada mahasiswa baru berupa pelatihan.

Selain itu, BNPB telah mengajukan pendirian perguruan tinggi khusus manajemen kebencanaan.

“Dari BNPB mengajukan mendirikan perguruan tinggi di bidang manajemen kebencanaan, ini harus dilakukan,” ujarnya.

Sumber: Aichi Halik, BeritaSatuTV (https://www.beritasatu.com/nasional/530653/menristekdikti-minta-universitas-buka-prodi-mitigasi-bencana)

Sarasehan Anggota IABI

 

Di tengah kesibukan pelaksanaan Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-6 pada 19 Juni 2019, Pengurus IABI bermaksud mengadakan silaturahmi dengan anggota IABI baik yang sudah lama bergabung ataupun mendaftar. Sarasehan dilakukan di Ruang Pusdalops, Gedung Ina DRTG lantai 3 pada jam 13.00 – 15.00 sambil menunggu waktu penutupan. Pada sarasehan kali ini, anggota IABI mengagendakan untuk diskusi beberapa hal berikut:

  •  Peran dan harapan terhadap IABI
  • Konsep Gerakan dalam organisasi IABI untuk menanggulangi eskalasi bencana ke depan
  • Sharing ‘pengalaman dan praktik baik Komda IABI Jatim
  • Brainstorming ‘menuju PIT 7 2020 – Universitas Brawijaya
  • Diskusi keanggotaan dan pembagian kartu anggota bagi anggota baru

Tidak semua agenda dapat didiskuikan mengingat waktu yang terbatas, namun sarasehan kali ini menjadi ajang untuk silaturahmi dan memperkuat internal IABI. Semoga ke depannya makin sering dilakukan. (ANA)

Seminar International ICDM PIT 6

Seminar International Conferenceon Disaster Management (ICDM) 2019 berlangsung pada tanggal 18 Juni 2019 di Ruang Auditorium Universitas Pertahanan dengan tema Social and Technological Innovation on Disasters for Industry 4.0. Dalam seminar ICDM 2019 terdapat enam narasumber yang expert dalam bidang deteksi dini dan penanggulangan bencana yaitu pada sesi pertama narasumbernya adalah Prof.Ron A. Haris(Profesor Geologi Brigham Young University), Rama Raditya sebagai CEO dan Founder aplikasi Qlue yaitu aplikasi deteksi dini bencana untuk mewujudkan smartcity, dan Prof.Dwikorita Karnawati,Ph.D sebagai Kepala BMKG Indonesia. Narasumber pada sesi kedua yaitu Dr.Naoto Tada (JICA Indonesia), Dr.Fadjar Ibnu Thufail (LIPI), dan Profesor Sulfikar Amir (Nanyang Technological University).Seminar di mulai pada pukul 13.30 dan diawali dengan sambutan oleh Rektor Universitas Pertahanan Letjen TNI Dr. Tri Legionosuko, S.IP,M.AP. 

Sesi pertama dibuka oleh moderator Dr.Jonni Mahroza dari Universitas Pertahanan. Beliau menjelaskan bahwa kita tidak dapat menghentikan bencana namun kita dapat menanggulanginya. Kemudian narasumber pertama yang memberikan paparan adalah Profesor Ron A.Haris. Beliau menjelaskan bahwa kita harus memberikan informasi dan edukasi secara langsung di lapangan dengan bahasa lokal terhadap warga yang bertempat tinggal di daerah rawan bencana karena tidak semua warga Indonesia dapat mengakses jurnal ilmiah internasional mengenai tanggap bencana dan mengerti apa yang harus dilakukan saat bencana itu terjadi. Profesor Ron menekankan prinsip 20,20,20 yaitu jika terjadi gempa lebih lama dari 20detik, maka dalam waktu 20 menit warga yang bertempat tinggal di wilayah rawan bencana harus berevakuasi sejauh radius 20 meter dari titik terjadinya gempa. 

Narasumber kedua adalah Rama Raditya sebagai CEO dan Founder aplikasi Qlue dimana dalam implementasi aplikasi tersebut bekerja sama dengan pemerintah. Beliau menggabungkan kemajuan teknologi saat ini dengan kebutuhan pemerintah atas data faktual dan aktual yang dibutuhkan untuk deteksi dini bencana. Dengan mengandalkan sensor yang berada di wilayah rawan bencana, Qlue dapat mendeteksi dini secara cepat dan dapat langsung diakses melalui smartphone setiap w arga untuk memudahkan deteksi dini dan mempercepat evakuasi sehingga dapat meminimalisir kerugian. Selain  aplikasi, Rama Aditya juga mengembangkan alat deteksi korban bencana yang hilang maupun tertimbun dalam reruntuhan di wilayah terjadinya bencana. 

Narasumber ketiga adalah Profesor Dwikorta Karnawati, Ph.D sebagai Kepala BMKG Indonesia. Beliau menyatakan bahwa BMKG harus bekerja sama dengan agensi-agensi dan universitas-universitas lainnya untuk terus mengembangkan teknologi deteksi dini yang canggih dan dapat mendeteksi bencana dalam 5 detik dan mudah digunakan karena BMKG harus melakukan multi-observasi dalam waktu 24 jam selama 365hari non-stop dari atmosferik, oseanik, dan tektonik untuk mendeteksi dini potensi bencana. Karenabencanasemakinsulitdiprediksimakateknologiyangdibutuhkan juga harus 

maju dalam 20 tahun ke depan untuk meminimalisir kerugian. BMKG juga menggunakan artificial inteligent untuk mengumpulkan data dari sensor yang berada di wilayah rawan bencana dan kemudian mengakumulasikan data tersebut untuk memprediksi bencana seperti gempa dan tsunami. BMKG juga perlu bekerjasama dengan pemimpin lokal yang berada di wilayah rawan bencana sebagai mediator antara BMKG dengan masyarakat lokal untuk mengedukasi masyarakat mengenai tanggap bencana. 

Sesi kedua dimulai pada pukul 15.15 dan dibukaoleh Kolonel Rudy Gultom dan dilanjutkan oleh narasumber pertama yaitu Dr. Naoto Tada yang membahas mengenai alat deteksi dini bencana banjir dan juga menjelaskan mengenai fenomena bencana alam di Jepang. Beliau juga menekankan pentingnya multi-observasi dalam sistem deteksi dini potensi bencana. Kemudian narasumber kedua yaitu Dr. Fadjar Ibnu Thufail yang menjelaskan bahwa bencana menyebabkan terhentinya aktivitas sebuah komunitas dan menimbulkan kerugian dalam banyak hal termasuk sumber daya. Sangatlah penting untuk mengetahui sebab bencana baik dari segi ilmiah dan tradisional karena dengan menggabungkan kedua hal tersebut akan dapat berkonstribusi dalam deteksi dini potensi bencana. Pengetahuan akan bencana tersebut merupakan hal krusial untuk penanggulangan dan manajemen bencana. Edukasi dengan masyarakat lokal sangat penting dalam meminimalisir kerugian dan korban akibat terjadinya bencana dengan pemimpin lokal sebagai perantara antara ilmuwan dan masyarakat lokal dalam edukasi tersebut. 

Narasumber ketiga adalah Profesor Sulfikar Amir dengan paparannya mengenai daya tahan dalam menghadapi bencana. Beliau menegaskan bahwa pada saat terjadinya bencana dimana terjadinya kepanikan pada masyarakat, mereka cenderung lupa untuk melakukan tindakan yang sudah dipelajari sebelumnya. Daya tahan dalam menghadapi bencana bukan saja dalam menyiapkan atau menolak terjadinya bencana namun bagaimana menghadapi bencana tersebut saat terjadi. Saat ini dunia menjadi semakin dinamis. Konsep yang ditawarkan  beliau adalah Socio technical Resillience dimana tujuan dari konsep tersebut adalah untuk menyiapkan masyarakat yang paham terhadap bencana itu sendiri dan untuk membangun teknologi, elektrik, dan infrastruktur. Hal ini dikarenakan pemerintah saat ini memfokuskan untuk membangun infrastruktur negara dan negara sangat bergantung pada infrastruktur tersebut.Maka dibutuhkan infrastruktur yang memiliki daya tahan terhadap bencana dan teknologi yang tepat serta sumber daya manusia yang siap dalam menghadapi bencana. 

Sumber: Cheryl Manafe, Universitas Pertahanan

Materi pada PIT ke-6

Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-6 masih menyisakan kesan yang mendalam di kalangan peserta. Beberapa peserta masih ingin menggali banyak ilmu terkait dengan hal-hal yang dibicarakan dalam PIT ke-6. Untuk itu, kami mempersilahkan Anda untuk dapat mengunduh materi yang telah dipresentasikan dalam PIT ke-6 di bawah ini.

  1. Materi Pembukaan
  2. Seminar Internasional ICDM
  3. Materi Special Session 1 Bencana dan Agama
  4. Materi Special Session 2 Pendidikan Kebencanaan
  5. Materi Special Session 3 Riset Kebencanaan di ASEAN
  6. Paparan Finalis Lomba Inovasi Kebencanaan

 

INOVASI KEBENCANAAN DI PAMERAN RISET KEBENCANAAN KE-6

Sesuai dengan temanya, PIT ke-6 kali ini, mencoba menantang kreativitas dan inovasi dari para ahli maupun masyarakat umum untuk menciptakan kreasinya terkait dengan Inovasi Kebencanaan. Ada 6 tim yang mempresentasikan karya mereka dalam lomba ini kemarin, Rabu (19/06/19). Ke-enam tim ini telah diseleksi dari 28 peserta yang mengirimkan proposal terkait inovas kebencanaan.

Selain itu, ada 20 proposal yang mengikuti lomba Inovasi Kebencanaan. Tetapi yang terpilih hanya 6 tim yang bisa maju ketahap berikutnya. Siapakah mereka? Mereka adalah tim Irendra Radjawali, tim Nur Budi Mulyono, tim Ivan Surya Wicaksan, Musa, tim Diki Nurul Huda, dan tim Dr. Ir. Adrin Tohari M.Eng.

Masing-masing tim mempresentasikan alat penemuan mereka dalam waktu 20 menit dan 10 menit untuk sesi tanya jawab dengan juri. Terdapat 3 juri yang akan menilai pada lomba Inovasi Kebencanaan kali ini. Para dewan juri adalah (1) Dr. Triarko Nurlambang, Wakil Ketua Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, (2) Dr. Idwan Suhardi, Dosen FMIPA Universitas Indonesia, dan (3) Dr. Dirhamsyah, Dosen Universitas Syah Kuala DI Aceh.

Semua peserta menampilkan dengan alat yang menakjubkan dan menginovasi. Kepo ngga dengan apa saja yang di presentasikan oleh mereka? Nih simak!

  • Mobile Wiseland (LIPI)

Dr. Ir. Adrin Tohari M.Eng, mempresentasikan temuannya dengan judul “Mobile Wiseland  Teknologi Peringatan Dini Longsor Berbasis Jejaring Sensor Nirkabel Untuk Tanggap Darurat Bencana Longsor. LIPI telah menghasilkan teknologi kebencanaan berupa prototype LIPI-Mobile Wiseland untuk mendukung manajemen mitigasi bencana longsor. Dengan ini, akan memberikan kemudahan dan keefektifan dalam memantau dan memberikan peringatan dini longsor saat pada proses tanggap darurat.

  • SIGANOPOLY (STIA LAN Jakarta)

Siganopoly milik Musa ini adalah proses pembelajaran yang menyenangkan dengan media pembelajaran yang interaktif dan sesuai kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Musa mempresentasikan Siganopoly dengan judul “Siganopoly Permainan Edukasi Berbasis Siaga Bencana”.

  • Search & Rescue Done – DroneSAR & Data Presisi

Irendra Radjawali membawa alat drone sebagai bahan presentasi dengan berjudul “Manajemen Kebencanaan 4.0; Search And Rescue Drone [Dronesar]”. Drone ini bisa mendeteksi dan mencari api, orang dan dapat menganalisis data besar.

  • Triable (UKDW)

Triable buatan dari tim Ivan Surya Wicaksana dengan bahan presentasi yang berjudul “Triable; Drop – Cover – Hold On. Alat ini dikhususkan untuk anak-anak penyandang disabilitas saat terjadinya bencana, seperti gempabumi. Dengan alat ini, memudahkan anak difabel berlindung dari bahaya akibat bencana yang terjadi.

  • Disaster Awareness Game (DAG)

Disaster Awareness Game (DAG) ciptaan dari tim Nur Budi Mulyono adalah salah satu penemuan permainan kesadaran kebencanaan. Tujuan dari game ini adalah untuk media pembelajaran anak-anak.

  • Gempakita (UI)

Gempakita ini adalah aplikasi sistem peringatan gempabumi, yang berisi informasi dan data potensi terjadinya gempabumi yang digunakan sebagai media dalam proses mitigasi informasi. Informasi tersebut dapat didapat dari data perubahan suhu mata air panas yang mengalami penyimpangan dari keadaan normal. Aplikasi ini dibuat dan dikembangkan tim Diki Nurul Huda.

Nah, itu semua adalah yang mereka presentasikan dalam lomba Inovasi Kebencanaan. Sebelum acara diakhiri, ada sambutan khusus dari Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB, Bapak Lilik Kurniawan, S.T., M.Si. 

Pengumuman di umumkan dipenutupan ceremony PIT IABI ke-6 di Sentul, Jawa Barat. Pemenang dari lomba Inovasi Kebencanaan ini adalah tim Irendra Radjawali dengan DroneSAR. Juara kedua adalah tim Nur Budi Mulyono dengan Disaster Awareness Game (DAG), dan yang terakhir adalah Triable buatan dari tim Ivan Surya Wicaksan dari (UKDW). (MA)

 

Materi paparan dari para finalis dapat diunduh di sini

Sumber: Mutia Allawiyah, https://siagabencana.com/all/post/inovasi-kebencanaan-di-pameran-riset-kebencanaan-ke-6