SPAB: Membangun dan Menanamkan Kesiapsiagaan Bencana di Sekolah

Akhir tahun 2018 merupakan masa berkabung bagi warga Indonesia. Bencana mulai dari Gempa Lombok di Bulan Agustus. Diikuti dengan gempa, tsunami dan likuifaksi di bulan September. Diikuti dengan banjir di Mandailing Natal di bulan Oktober serta Gempa dan Tsunami Banten di Bulan Desember membuat seantero Indonesia berduka atas kehilangan yang dialami oleh para korban. Peristiwa ini juga menyebabkan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, mengingat geografi Indonesia yang terletak di lempeng yang rawan akan bencana.

Salah satu stakeholder yang berperan dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana adalah institusi pendidikan, dalam  hal ini adalah sekolah. Sekolah sebagai institusi yang setiap harinya didatangi oleh para siswa, Sekolah menjadi potensi dalam menanamkan nilai-nilai kesiapsiagaan menghadapi bencana dalam skala besar mengingat ada sekitar 61 juta anak yang berada di sekolah (Kemendikbud, 2018) dan jumlah ini belum menghitung siswa yang berada di madrasah dan lembaga pendidikan lain. Banyaknya siswa yang datang ke sekolah membuat sekolah harus menjadi lembaga yang aman dan siap siaga menghadapi bencana. Terlebih di Indonesia, bencana bisa kapan datang saja dan dimana saja. Dampak tersebut akan lebih parah jika bencana terjadi pada saat proses belajar-mengajar sedang berlangsung di sekolah, karena reruntuhan bangunan dan benda sekitarnya dapat menimpa dan atau menimbun peserta didik, guru maupun tenaga kependidikan lainnya. Jumlah sekolah juga di tahun 2018 mencapai 307.655 (Kemendikbud, 2018) dan sekolah yang tidak aman tentu saja akan membuat sekolah rawan untuk runtuh dan hancur. Tentu saja ini menambah beban negara yang wajib merenovasi sekolah yang rusak. Maka dari itu, persiapan sekolah sebagai fasilitas dan tempat yang aman untuk menghadapi bencana menjadi penting untuk dilakukan.

Selain itu, sekolah berpotensi sebagai institusi yang dapat menanamkan nilai-nilai siaga dalam menghadapi bencana lewat kurikulum yang ada. Kurikulum sendiri ada yang sifatnya intra dan esktra sehingga banyak kegiatan di sekolah yang dapat diarahkan untuk hal ini. Dengan penanaman dari sejak dini diharapkan setiap insan di Indonesia dapat siap menghadapi bencana.

Maka dari itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membentuk Sekretariat nasional satuan Pendidikan Aman bencana (SPAB) yang dipimpin oleh Kemendikbud dengan keanggotaan; Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementarian Agama (Kemenag), Kementerian Perlindungan anak dan Perempuan (KPPA), serta berbagai Lembaga non pemerintah, sebagaimana tercantum dalam lampiran surat keputusan Menteri Pendidikan dan kebudayaan no 110/P/2017. SPAB bertugas sebagai berikut:

  • Melakukan pemetaan program aman bencana untuk kegiatan pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana di satuan pendidikan yang dilaksanakan oleh unit kerja terkait;
  • Mengoordinasikan pelaksanaan rencana aksi program satuan pendidikan aman bencana 2015 – 2019;
  • Melakukan pendampingan teknis penerapan satuan pendidikan aman bencana;
  • Mengumpulkan, mengelola, dan menyebarluaskan praktik baik penerapan satuan pendidikan aman bencana melalui media komunikasi informasi dan edukasi;
  • Mengevaluasi pelaksanaan program pra bencana tanggap darurat dan pasca bencana di bidang pendidikan;
  • Menyusun laporan kemajuan pelaksanaan penerapan satuan pendidikan aman bencana.

Salah satu produk yang telah dihasilkan oleh SPAB adalah modul persiapan bagi sekolah dalam menghadapi bencana. Terdapat 3 modul yang menggambarkan 3 pilar dalam menghadapi bencana dengan detil sebagai berikut :

Adanya SPAB membuktikan perlunya kolaborasi dari berbagai pihak dalam meningkatkan kesadaran menghadapi bencana. Semoga dengan roadmap yang direncanakan oleh Tim SPAB dapat membangun insan individu yang siap siaga menghadapi bencana.

Rapat Persiapan PIT ke-6

Rapat Persiapan PIT ke-6

 

Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-6 merupakan acara akbar tahunan yang diselenggarakan oleh IABI bekerja sama dengan BNPB. Tahun ini, IABI dan BNPB berkolaborasi dengan Universitas Pertahanan (UNHAN) untuk menyelenggarakan PIT ke-6 yang rencananya diadakan pada 18-19 Juni 2019 di dua lokasi yaitu Gedung INA-DRTG BNPB Sentul dan Kampus Universitas Pertahanan Sentul.

Karena sudah memasuki tahun ke-6, IABI ingin PIT ini menjadi ajang sosialisasi terkait inovasi kebencanaan baik bagi anggota IABI sendiri dari kalangan akademisi, praktisi, peneliti dan perekayasa maupun masyarakat umum. Berbagai rangkaian acara diselenggarakan seperti diskusi panel ilmiah untuk call for paper, seminar internasional, special session, lomba tematik kebencanaan maupun Pameran Expo Kebencanaan yang dapat diikuti secara gratis. Rapat persiapan kali ini membahas beberapa teknis untuk memastikan PIT ke-6 berjalan lancar. Rapat ini sendiri dipimpin oleh Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB, Bapak Lilik Kurniawan, S.T., M.Si. Rapat ini juga mengundang beberapa stakeholder terkait seperti UNHAN, Kemenristekdikti, BMKP, BPPT dan U-Inspire. U-Inspire sendiri akan mengisi sesi spesial ‘mini hackathon’.

Informasi mengenai PIT ke-6 sendiri dapat di lihat di sini. (ANA)

IABI Jatim: Terus Berkolaborasi

Proses Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara IABI JATIM dan dan BPPD JATIM

Tentunya Penandatanganan PKS ini merupakan bukti nyata IABI Jatim untuk terus berperan aktif dalam pembangunan nasional terkait kebencanaan.

Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) cabang Jawa Timur terus mencoba berkolaborasi.Kali ini secara resmi, IABI Jatim menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur. Salah satu tindak lanjut dari PKS ini adalah kolaborasi antara IABI dan BPBD Jatim dengan mengajak Perguruan Tinggi se-Jawa Timur (baik negeri maupun swasta) untuk membuat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Desa Tangguh Bencana. Nantinya diharapkan program KKN yang diadakan Perguruan Tinggi dapat menguatkan kapasitas masyakarat di daerah rawan bencana. Tentunya Penandatanganan PKS ini merupakan bukti nyata IABI Jatim untuk terus berperan aktif dalam pembangunan nasional terkait kebencanaan. Proses penandatanganan ini disaksikan oleh Prof. Syamsul Ma’arif dan juga Wakil Gubernur Jawa Timur

Repdeman: Mengingat Masa Lalu untuk Menghadapi Bencana Masa Kini

“Bagi orang Mentawai masa lalu, gempa adalah sebuah petanda berkah yang perlu disyukuri”

Di tahun 2010, Indonesia dikejutkan oleh Gempa Mentawai yang membawa gelombang tsunami yang menghantam Kepulauan Mentawai. Tsunami ini menyebabkan jatuhnya sekitar 448 korban jiwa dengan sekitar 100 orang lainnya dinyatakan hilang. Dari sejak tsunami Aceh, area pulau sumatera memang diprediksikan akan mengalami gempa berdasakan alur pergeseran lempeng yang berada di dekat pulau tersebut. Gempa Mentawai dapat dibilang cukup unik karena berbeda dengan gempa-gempa yang berpotensi Tsunami yang telah terjadi sebelumnya seperti di Aceh pada tahun 2004, Gempa Nias pada tahun 2005, dan Gempa Bengkulu pada tahun 2005. Saat gempa dan tsunami Aceh terjadi, para peneliti, praktisi dan pekerja kemanusiaan berlomba-lomba mencari tanda-tanda untuk gempa yang berpotensi Tsunami agar bisa menjadi alarm bagi masyarakat untuk segera evakuasi. Beberapa tanda-tanda yang tersebar di masyarakat adalah air laut yang surut dan durasi datangnya tsunami baru terjadi 30 menit kemudian. Pada Kepulauan Mentawai, situasi air surut tidak terjadi, bahkan Tsunami terjadi setelah alarm potensi tsunami mati. Situasi Gempa dan Tusnami Mentawai yang unik ini diangkat dalam film documenter berjudul Repdeman yang menceritakan gempa dan tsunami Mentawai di tahun 2010.

Repdeman merupakan film produksi Watchdog yang bekerja sama dengan peneliti, praktisi dan pekerja kemanusiaan yang berkecimpung dalam turun dalam peristiwa gempa dan tsunami di Mentawai. Repdeman  ahasa Mentawai dari kata dasar “repdep” yang artinya ingat. Repdemen adalah ingatan, kenangan, sesuatu yang membuat kita tidak lupa tentang sesuatu.

Film Repdeman berusaha mempertemukan masa kini dengan masa lalu. Dalam film Repdeman diketahui bahwa gempa dan tsunami merupakan fenomena yang telah terjadi sejak zaman nenek moyang penduduk di Kepulauan Mentawai. Di Dusun Ugai, Desa Magabong terdapat cerita rakyat tentang gempa yang masih dipelihara oleh kepala suku.

Bagi orang Mentawai pada masa lalu, gempa adalah sebuah pertanda berkah yang perlu disyukuri, namun juga bisa menjadi pertanda buruk yang mungkin akan terjadi. Ketika merasa guncangan bumi, mereka berucap syukur dan berbicara kepada roh yang mereka percayai yang menjaga bumi untuk berguncang dengan pelan-pelan atau moile-moile dengan suara pelan mereka berkata dengan tenang dan tidak panik.

“ada cerita yang diturunkan dari nenek moyang jika katak dan hewan tanah tidak (sisoibilago) berbunyi, akan terjadi gempa bumi. Kita harus tetap tenang dan tidak boleh panik namun harus segera pergi ke tempat yang lebih aman”, ujar Kepala Suku Dusun Ugai. Menurutnya, cerita-cerita inilah yang harus diingat dan diturunkan ke anak cucu agar mereka bisa lebih peka mengenai tanda-tanda gempa yang berpotensi Tsunami.

Mereka masih mengingat apa yang mereka alami saat gempa dan tsunami sambil mereka menghadapi rasa traumanya saat kejadian bencana, rasa sedih kehilangan orang-orang yang dikasihi dan perjuangan untuk bangkit secara ekonomi setelah semua harta benda hilang disapu ombak Tsunami setinggi 12 meter.

Film Repdeman juga menyajikan penonton bagaimana survivor Mentawai masa kini. Mereka masih mengingat apa yang mereka alami saat gempa dan tsunami sambil mereka menghadapi rasa traumanya saat kejadian bencana, rasa sedih kehilangan orang-orang yang dikasihi dan perjuangan untuk bangkit secara ekonomi setelah semua harta benda hilang disapu ombak Tsunami setinggi 12 meter. Beberapa penduduk mulai berpindah dari Hunian Sementara (Huntara) yang dibangun oleh Pemerintah atau Lembaga Donor ke Hunian Tetap (Huntap) di lokasi yang lebih tinggi. Di lokasi Huntap mereka kesulitan untuk mencari nafkah padahal harga sandang dan pangan yang lebih mahal karena lokasi Huntap yang tidak strategis membat mobilisasi orang dan produk menjadi lebih sulit. Mereka juga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Beberapa penduduk masih tinggal di desa mereka yang dulu ketika hari kerja untuk mencari nafkah berupa ikan, lobster, kerang dan kopra. Mereka baru tinggal di Huntap saat hari libur untuk beribadah. Untuk mencari nafkah ini, penduduk Desa masih harus berjalan lebih dari dua (2) jam. Mereka juga kesulitan mendapatan akses ke fasilitas umum seperti Puskesmas dan Sekolah.

Walau banyak korban jiwa pada gempa dan tsunami 2010, para peneliti berpendapat bahwa energi yang dikeluarkan “megathrust Mentawai” masih belum maksimal. Goncangan yang terjadi masih dianggap kecil sehingga tidak membuat orang merasa takut. Maka dari itu, daerah Kepulauan Mentawai diprediksikan masih akan mengalami gempa dengan skala yang lebih besar. Film Repdeman adalah sebuah usaha, pengingat bagi kita semua jika pengetahuan atau cerita masa lalu dari nenek moyang penting untuk dijaga dan dipelihara. Karena gempa dan tsunami adalah proses alam yang biasanya terjadi berulang sehingga seharusnya kita tidak lupa. Sebagai usaha pengingat, film Repdeman ini patut untuk diberikan standing applause. (ANA).

Menghadapi Bencana: Apa yang harus disiapkan?

Bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Ditambah lagi Indonesia berada dalam Kawasanring of fire yang membuat masyarakat Indonesia rentan mengalami bencana, mulai dari erupsi gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami. Dalam menghadapi ini, masyarakat Indonesia dituntut harus siap sedia menghadapi segala ancaman bencana.

Selain peningkatan awareness mengenai mitigasi bencana dan risiko bencana di tempat tinggal, individu juga harus tahu mengenai barang-barang yang perlu disiapkan ketika bencana terjadi. Barang-barang ini diharapkan dapat membantu individu untuk bertahan di tengah kondisi sehabis bencana yang biasanya chaos. Persiapan ini juga diharapkan dapat membuat individu tidak panik ketika bencana terjadi.

Barang-barang yang disiapkan untuk menghadapi bencana ini, dapat dimasukkan ke dalam satu tas. Sebagai contoh, IABI mengambil infografis yang dibuat Pusat Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia berkaitan dengan barang-barang yang harus disiapkan agar siap ketika bencana terjadi.

Isi Tas Siaga Bencana

Melihat riwayat bencana Indonesia, tidak ada salahnya jika kita mulai mempresiapkan diri dari sekarang bukan? (ANA)

UNAND Tuan Rumah PIT ke-5

Gedung Pascasarjana, Universitas Andalas

1 May 2018 – 4 May 2018

Melanjutkan 4 pertemuan ilmiah sebelumnya, pada tahun 2018 PIT ke-5 diselenggarakan di Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat pada hari Rabu-Jum’at, 2-4 Mei 2018. Kegiatan PIT ke 5 tahun 2018 terdiri dari Konferensi internasional, Seminar nasional (diskusi panel/paralel), Expo/pameran kebencanaan, Disaster management event, Geopark study visit, Peresmian taman edukasi  kebencanaan.

Seminar Nasional (Semnas) PIT5-IABI ini diharapkan akan dihadiri oleh 200 orang peserta dan pemakalah. Makalah untuk Semnas ini mengambil tema ‘Manajemen Bencana Berkelanjutan’ dengan beberapa sub-tema. Pemakalah bisa melihat call for paper yang telah disediakan panitia, mengikuti petunjuk penulisan, dan submit makalah tersebut ke website ini. Makalah kami tunggu sampai tanggal 1 Maret 2018.

sumber : http://seminar.unand.ac.id/index.php/iabi/pit5iabi2018

PVMBG Evaluasi Status Awas Gunung Agung

Jakarta, CNN Indonesia — Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) akan mengevaluasi status awas Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali. Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Gede Suantika mengatakan evaluasi itu dilakukan akibat penurunan energi yang dikeluarkan Gunung Agung.Penentuan status gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut itu akan dibahas dalam rapat teknis PVMBG, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan instansi terkait lainnya. Sebelumnya Gunung Agung sudah ditetapkan berstatus awas sejak 22 September lalu.
“Kami harap sudah ada kesimpulan nanti sore berdasarkan tingkat aktivitasnya, mau tetap awas atau akan turun,” kata Gede di Amlapura, Karangasem, Bali, Jumat (20/10) seperti dikutip Antara.

Terkait kondisi terkini, Gede menjelaskan, tingkat kegempaan hingga saat ini masih berfluktuasi dengan rata-rata gempa dalam mencapai 500-600 kali per hari, gempa dangkal 300 kali, dan tektonik lokal sebanyak 60 kali per hari di sekitar Gunung Agung. Selain itu juga beberapa kali gempa yang dirasakan dengan skala rata-rata di bawah 3,0 skala Richter. Gede Suantika melanjutkan berdasarkan data dari Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG) tekanan magma saat ini berada pada kisaran 5-10 kilometer di bawah Gunung Agung. Sedangkan gempa, hingga saat ini belum ada migrasi atau perpindahan aktivitas yang persis berada di bawah Gunung Agung. Untuk aktivitas gempa, Gede mengatakan berdasarkan pengamatan pihaknya berkisar di antara wilayah Tianyar ke arah barat daya tepatnya di antara Gunung Agung dan Gunung Abang.

Sementara itu berdasarkan data PVMBG dari Pos Pengamatan Gunung Agung di Desa Rendang menyebutkan selama pemantauan pukul 00.00-06.00 Wita, asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 100 meter di atas kawah puncak. Untuk aktivitas kegempaan, tercatat gempa nonharmonik terjadi satu kali berdurasi 214 detik, vulkanik dangkal 39 kali, vulkanik dalam 72 kali, dan tektonik lokal sembilan kali.

Terkait situasi di Gunung Agung, Mabes Polri meluncurkan aplikasi peringatan dini kondisi. Dalam peluncuran aplikasi itu di Karangasem, Asisten Operasi Mabes Polri Irjen M Iriawan mengatakan, “Jika ada erupsi, evakuasi akan lebih mudah karena masyarakat cepat tahu. Dalam pola operasi, ada kontijensi.”

Cara kerja dari aplikasi itu, ketika ada erupsi maka operator di Pos Pengamatan Gunung Agung di Desa Rendang akan menekan tombol pada aplikasi khusus itu yang akan menimbulkan peringatan pada seluruh telepon seluler masyarakat yang sudah mengunduh dan mendaftar pada aplikasi tersebut.Sebelumnya BNPB telah memasang enam sirine peringatan di enam titik di sekitar daerah rawan bencana, dengan tujuan para warga segera melakukan evakuasi apabila sewaktu-waktu gunungapi itu meletus.

Sumber: CNN

Dr. Harkunti P. Rahayu Terpilih sebagai Ketua IABI Periode 2017-2020

Jakarta – Bertempat di Grand Ballroom Hotel Margo City Depok tanggal 9 dan 10 Mei 2017, acara Musyawarah Nasional (MUNAS) Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) diadakan untuk menentukan Ketua IABI Periode 2017-2020. Ketua IABI yang baru, menggantikan posisi Prof. Sudibyakto dari UGM yang telah menjabat sebagai ketua IABI untuk Periode 2014-2017. Pada acara tersebut, setidaknya 100 orang anggota IABI yang berasal dari perwakilan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, akademisi, praktisi, perekayasa dari berbagai provinsi di Indonesia hadir untuk menentukan Ketua IABI yang baru melalui musyawarah.

Pada akhir kegiatan MUNAS, Dr. Harkunti Rahayu Pertiwi dari ITB akhirnya terpilih sebagai ketua IABI yang baru untuk periode 2017-2020. Usai terpilih Dr. Harkunti berharap bahwa IABI kedepan bisa menjadi lebih baik dan mumpuni. Pada periode kedua kepengurusan IABI ini, anggota IABI juga berharap IABI dapat terus berkembang dan dapat menjadi jembatan antara akademisi dan para birokrat guna memastikan kebijakan yang dibuat berlandaskan IPTEK. FS

BNPB bentuk Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia

Minggu, 21 September 2014 14:59 WIB | 6.401 Views

Pewarta: Aprionis

 

Dokumentasi petani memanen kopi yang tertutup debu vulkanik Gunung Sinabung, di Desa Kuta Rakyat, Karo, Sumatera Utara, Kamis (6/2). Meskipun sebagian besar lahan para warga rusak akibat letusan gunung berapi itu, beberapa petani tetap memanen tanaman mereka untuk dijual. (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)

 … peserta pertemuan itu sebanyak 365 ilmuwan, peneliti, perekayasa, akademisi dan praktisi di bidang kebencanaan… ”

Jakarta (ANTARA News) – Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB), membentuk Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) untuk membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi kebencanaan dalam mengurangi risiko bencana.

“IABI ini forum para ahli kebencanaan dalam mempercepat penanggulangan bencana alam seperti tsunawi, kebakaran hujan, banjir, gempa bumi dan lainnya,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi Humas BNPB, Sutopo Nugroho, di Jakarta, Minggu.

Ia menjelaskan, IABI terbentuk sebagai hasil Pertemuan Ilmiah Tahunan 2014 di Surabaya pada Juni 2014 yang didukung Kemdikbud dan Kemristek.

“Pertemuan pertama ini telah sukses menghasilkan cetak biru penelitian kebencanaan untuk periode 2015 hingga 2019,” ujarnya.

Selain cetak biru tersebut, kata dia, para peserta pertemuan itu sebanyak 365 ilmuwan, peneliti, perekayasa, akademisi dan praktisi di bidang kebencanaan.

“Para ilmuwan ini setuju membentuk suatu wadah dalam saling berkoordinasi dan berkomunikasi, bertukar pikiran dan informasi untuk melaksanakan peran mereka menggunakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi membangun ketahanan di semua tingkatan,” ujarnya.

Menurut dia, sebagai wadah koordinasi dan berbagi antar pelaku ini dapat pengurangan risiko bencana dan dapat membangun kesadaran bersama dan mampu membangun dialog serta mengembangkan jejaring antarpihak.

Selain itu, kegiatan ini juga dapat menyinergikan kegiatan sektoral sehingga dapat dijadikan ajang pembelajaran bersama bagi IABI seluruh Indonesia.

“Dalam penangganan bencana diperlukan pemikiran dan teknologi yang tepat, sehingga penangganan dan mencegah bencana tersebut dapat  tepat dan cepat serta kerugian dapat ditekan,” ujarnya.
Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2014

 

 

http://www.antaranews.com/berita/454636/bnpb-bentuk-ikatan-ahli-kebencanaan-indonesia